Minggu tanggal 27 Mei 2007 kemarin, Pimpinan Pusat Gema Pembebasan menghadiri undangan dari Pengurus Pusat Hima Persis dalam acara Simposium Nasional “Rekonstruksi Gerakan Mahasiswa Dalam Membangun Bangsa”. Acara berlangsung di salah satu gedung bersejarah di Kota Bandung yaitu gedung Indonesia Menggugat. Gedung tersebut adalah gedung tempat disidangkannya Bung Karno oleh Pemerintah Hindia Belanda kala itu.
Acara dibuka oleh sambutan – sambutan dari pihak panitia penyelenggara maupun perwakilan dari walikota Bandung yang saat itu berhalangan hadir. Di antara pembicara yang hadir adalah Bapak Fuad Bawazier (mantan menteri keuangan era Soeharto), Bapak Heru Susanto (Bappenas), serta aktivis ’98 Sahrin Hamid yang juga menjabat sebagai ketua KNPI Pusat.
Acara berlangsung dengan hangat meski banyak melebar ke sana kemari keluar dari tema seminar yaitu “Rekonstruksi Gerakan Mahasiswa Dalam Membangun Bangsa”. Pada kesempatan Tanya jawab, Amir Muttaqin selaku ketua umum Dewan Pengurus Pusat Gema Pembebasan memberikan tanggapan seputar perlunya rekonstruksi gerakan mahasiswa saat ini. Beliau menyatakan bahwa reformasi yang telah digulirkan pada 1998 lalu telah mati dan layu sebelum berkembang alias gagal total. Beliau menilai kegagalan tersebut akibat dari tidak jelasnya arah reformasi yang digelindingkan saat itu. Di samping juga kesalahan dalam mengidentifikasi akar permasalahan yang sedang dihadapi oleh umat saat ini. Dalam kesempatan itu beliau menyatakan bahwa akar permasalahan umat adalah ideologi neo kapitalisme liberalisme yang diterapkan di negeri ini. Oleh karena itu beliau menawarkan sebuah solusi konkret berupa Khilafah Islam yang akan menggantikan sistem bobrok ini dengan syariah Islamnya. Sehingga tidak bisa tidak selain dengan jalan revolusi bukan jalan reformasi. Sebab yang harus diganti adalah orang sekaligus sistem yang diterapkannya.
Dalam kesempatan itu juga terdengar celetukan – celetukan miring berupa kampanye bahwa ide khilafah adalah ide yang berbahaya karena dia adalah sebuah ideology transnasional(bukan keindonesiaan). Ataupun juga celotehan – celotehan bahwa Gema Pembebasan hanyalah gerakan yang mengimpor ideologi dari luar negeri. Namun sayang sekali pada kesempatan itu Gema Pembebasan tidak dalam kapasitas sebagai pembicara sehingga tidak ditanggapi kampanye – kampanye miring tersebut. Akan tetapi secara singkat Ketua Umum DPP Gema Pembebasan menyampaikan kepada rekan – rekan bahwa ideologi yang diterapkan saat ini adalah sebuah ideologi impor dari luar juga yaitu Kapitalisme Liberalisme yang sekuler. Bukankah hal itu hanyalah menertawakan diri mereka sendiri? Bukankah Islam itu adalah agama yang transnasional, tidak ada Islam Indonesia, Islam Malaysia dll. Semuanya Islam selama mereka mengakui tiada Ilah selain Allah Swt.
Seminar tsb berakhir tepat pukul satu siang. Setelah break, acara dilanjutkan dengan sebuah dialog antar gerakan. Pada kesempatan itu, unsur gerakan yang diundang sebenarnya tidak hanya Gema Pembebasan saja, akan tetapi yang berkesempatan untuk hadir hanyalah rekan – rekan dari Gema Pembebasan. Dialog tsb dibuka oleh pemaparan gagasan – gagasan dari rekan – rekan Hima Persis mengenai rekonstruksi gerakan mahasiswa saat ini. Pemaparan disampaikan oleh Lam Lam Pahala yang merupakan ketua umum Pengurus Pusat Himpunan Mahasiswa Persis. Beliau menyatakan bahwa keadaan saat ini disebabkan oleh tiga hal yaitu orang – orang yang melaksanakan pemerintahan, sistem yang dilaksanakannya, serta leadership yang buruk. Beliau menegaskan bahwa saat ini orang – orang yang melaksanakan pemerintahan bukanlah orang – orang yang amanah dan adil. Sedangkan untuk sistemnya jelas bahwa sistem yang mereka jalankan saat ini sama sekali tidak didasarkan kepada al-Quran dan Sunnah. Ditambah lagi dengan figure leadership yang lemah dan tidak berani dalam menyuarakan yang haq. Itulah kurang lebih point – point yang beliau sampaikan.
Pada kesempatan itu Ketua Umum DPP Gema Pembebasan juga mendapat kesempatan untuk memaparkan gagasan – gagasannya mengenai rekonstruksi gerakan mahasiswa saat ini. Singkat kata beliau menjelaskan bahwa yang harus dilakukan oleh gerakan mahasiswa saat ini adalah menyuarakan syariat Islam sebagai solusi bagi seluruh permasalahan umat dan mengkampanyekan penegakan Khilafah Islam sebagai institusi yang akan menjalankan syariah Islam tsb. Gagasan ini menuai banyak pro dan kontra dari peserta symposium sekalian. Diantara mereka ada yang pro dan juga ada yang kontra. Diantara yang pro antara lain adalah sebagaian rekan – rekan Hima Persis serta rekan – rekan Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus Jawa Barat, yang saat itu hanya diwakili oleh koordinator akhwatnya saja. Hal ini tentu tidaklah mengherankan sebab pernyataan resmi terakhir yang dikeluarkan oleh dewan Hisbah Persis adalah bahwa Persis secara khusus mendukung penegakan khilafah di Indonesia.
Dialog antar gerakan ini memang belum menghasilkan satu point yang akan ditindaklanjuti sebagai sebuah gerakan bersama, akan tetapi cukup membawa angin segar bagi persatuan gerak ormawa Islam kedepannya. Sebagaimana yang dikatakan oleh rekan – rekan Hima Persis bahwa tujuan kita sebenarnya adalah sama hanya berbeda dari segi metode penegakannya. Semoga saja hal ini akan semakin mempercepat tegaknya syariah dan khilafah di Indonesia dan menggantikan ideology kufur sekuler menyengsarakan yaitu kapitalisme liberalisme.
[Kantor Pengurus Wilayah Gema Pembebasan Jawa Barat]
Form Pendaftaran Anggota Gema Pembebasan
Saturday, July 7, 2007
Hima Persis Mendukung Tegaknya Syariah dan Khilafah di Indonesia
Diposting oleh
GEMA PEMBEBASAN JAWA TIMUR
di
11:21 PM
0
komentar
Label: OKP
Otot dan Otak Mahasiswa
Sering kali kita melihat berbagai aksi yang dilakukan oleh mahasiswa berakhir rusuh. Salah satu hal yang sering menjadi penyebab kerusuhan adalah keinginan peserta aksi yang ingin seluruh peserta aksi dapat masuk dan bertemu dengan anggota dewan. Tentu saja hal ini pasti akan dihalangi oleh aparat yang menjaga jalannya aksi. Tak ayal lagi, bentrokan pun terjadi antara peserta aksi yang nekad mau masuk semua, dengan para aparat yang menghalang – halangi.
Lalu kenapa memangnya dengan permasalahan ini? Bukankah hal itu merupakan hal yang wajar – wajar saja! Tentu tidaklah demikian, berbagai aksi yang biasanya berakhir rusuh itu justru sangat bermasalah dilihat dari sisi bahwa itu adalah suatu aksi untuk menyampaikan suara atau aspirasi para demonstran. Bukannya suatu tindakan yang bertujuan untuk sekedar berdesak – desakan dengan aparat, lalu masuk tv dengan kerennya. Yang jelas aksi yang dilakukan oleh mereka – mereka itu sama sekali tidak menghasilkan apa – apa kecuali hanya masuk tv karena aksinya rusuh. Atau justru malah membuat para orang tua mahasiswa tidak mengijinkan para putra putrinya untuk ikut – ikutan aksi apapun, sekalipun aksinya berjalan damai.
Ini tentu bermasalah karena justru hal ini menunjukkan kepada dunia bahwa mahasiswa telah kehilangan daya pikir intelektualnya. Buktinya adalah mendasarkan setiap aksinya dengan hal – hal yang berbau otot. Karena sudah menjadi sebuah sunnatullah bahwa ketika seseorang kalah secara intelektual, yang timbul selanjutnya adalah pengerahan kekuatan ototnya. Ini pernah terjadi pada masa Rasulullah, yang ketika itu hendak dibunuh oleh kaum Quraisy karena kaum Quraisy itu telah kalah secara intelektual. Lantas timbul pertanyaan, kalau begitu hal – hal yang berbau otot itu tidak intelek dong? Tentu tidak begitu, ada saatnya kapan kita harus menggunakan otot, dan kapan kita harus menggunakan daya pikir kita sebagai mahasiswa. Dalam kondisi perang, otot yang paling kuatlah yang akan menang. Otot di sini bermakna apapun yang berkaitan dengan kekuatan fisik atau materi, seperti kekuatan senjata, kekuatan prajuritnya dll.
Lalu apakah salah mahasiswa lebih cenderung menggunakan ototnya daripada otaknya? Tentu saja salah! Karena saat dia berunjuk rasa, dia mengatasnamakan mahasiswa bukan tentara! Tugas seorang mahasiswa adalah belajar tentang agamanya (Islam) dan belajar tentang disiplin ilmunya, serta menggunakan ilmu yang sedang dia pelajari itu untuk memecahkan berbagai problematika umat. Istilah yang sering digunakan dalam bidang psikologi adalah learning by doing. Jadi sambil belajar, dia juga menggunakan apa yang dia pelajari itu untuk memecahkan berbagai problematika umat. Kalau dia hanya belajar agama saja, atau hanya belajar disiplin ilmunya saja, maka hal itu akan menjadikannya orang yang buta. Buta karena dia tidak mampu membedakan mana yang salah dan mana yang benar, serta buta karena dia tidak mampu meraih kemuliaan dengan menciptakan hal – hal yang berguna bagi umat.
Dalam kasus aksi mahasiswa yang sering rusuh, hal itu bisa terjadi karena dua hal. Yang pertama, semua orang yang mengikuti aksi tersebut memiliki pemikiran – pemikiran yang berbeda – beda atas problem yang dihadapi oleh umat. Sehingga mereka harus masuk semua untuk dapat menyampaikan aspirasinya. Ini bisa terjadi karena dua hal pula. Yang pertama hal itu disebabkan karena kurangnya koordinasi antara mereka, sehingga mereka turun ke jalan dengan dadakan dan tanpa didiskusikan terlebih dulu. Yang kedua karena mereka memiliki standar penilaian yang berbeda – beda. Hal ini yang seharusnya tidak terjadi dalam suatu konteks pergerakan mahasiswa. Karena dengan berbeda – bedanya standar pemecahan problem yang berbeda – beda akan membuat organisasinya sering kali mengalami friksi internal. HMI DIPO dan HMI MPO cukup sebagai bukti pecahnya internal mereka karena tidak adanya standar yang satu dalam memecahkan problematika umat. Misalnya saja yang satu cenderung menggunakan Islam liberal sebagai standard dan yang satu menggunakan Islam yang umum.
Penyebab kedua atas aksi yang rusuh itu adalah kejengkelan yang amat sangat dari para peserta aksi terhadap kinerja anggota dewan. Sehingga mereka semua ingin bertatap muka secara langsung dengan anggota dewan dan memaki – maki mereka. Hal ini saya peroleh dari pengalaman ngobrol dengan anggota dewan yang mengatakan bahwa kalau mereka masuk semua, paling yang bicara hanya satu dua orang saja, sisanya memaki – maki kami (anggota dewan) dari belakang. Apa yang dilakukan oleh para mahasiswa dengan melampiaskan kekesalannya ke anggota dewan tersebut tidak sepenuhnya dapat disalahkan. Mengingat apa yang telah menimpa rakyat Indonesia ini adalah berkat restu mereka juga. Tetapi juga tidak dapat dibenarkan karena hal itu hanyalah semakin menunjukkan bahwa mereka telah kalah dalam tataran intelektual atau dalam tataran konsep.
Seharusnya rekan – rekan mahasiswa menyadari bahwa untuk menyampaikan aspirasi tidak perlu semua peserta aksi masuk ke gedung dewan. Hal itu demi menjaga ketertiban aksi kita dan tetap menunjukkan kualitas kemahasiswaan kita yang tinggi. Biasanya anggota dewan hanya mau menerima perwakilan beberapa orang saja sebagai perwakilan dari seluruh peserta aksi. Saya pikir hal itu sudah cukup mengingat apa yang menjadi tujuan kita telah tercapai yaitu menyampaikan aspirasi kita ke “wakil rakyat” tersebut. Baik itu aspirasi berupa tuntutan penegakan syariah, penolakan kenaikan BBM, tuntutan untuk keluar dari PBB dsb. Dengan begitu hal itu justru menunjukkan kekuatan kita yang sebenarnya. Kekuatan dari para intelektual muda mahasiswa. Yang semenjak dulu sampai sekarang masih dikenal sebagai kelompok yang akan mendobrak status quo yang zalim.
Lalu bukankah itu sama saja artinya dengan menyampaikan satu omong kosong kepada para wakil rakyat kita? Mengingat bahwa selama ini wakil rakyat kita itu tidak pernah bertindak sesuai dengan aspirasi masyarakat, kecuali bila kita menggunakan kekuatan fisik untuk memaksa mereka menyuarakan aspirasi kita.
Lha sudah tahu gitu lo kok masih bertanya – Tanya lagi. Sudah tahu bahwa mereka itu adalah wakil – rakyat yang mengatasnamakan rakyat tetapi mengambil kebijakan – kebijakan yang menyengsarakan rakyat. Lihat saja UU Sumber Daya Air, UU Migas, UU Badan Hukum Pendidikan dsb. Bukankah hal ini seharusnya membuka mata kita bahwa mereka itu sama sekali bukanlah wakil kita. Tetapi mereka itu adalah wakil para pengusaha berduit baik dari dalam negeri maupun luar negeri, yang telah membuat mereka mampu meraih kedudukan itu dengan kekuatan modalnya. Seharusnya rekan – rekan mahasiswa sadar dan bangun dari mimpi yang ditawar – tawarkan mereka. Bukankah kita tidak pernah tahu untuk membuat aturan apa mereka kita pilih? Untuk membuat UU yang menyengsarakan rakyat seperti telah disebutkan di atas? Ataukah untuk merestui segala kebijakan pemerintah yang sejalan dengan kepentingan asing?
Seharusnya kita menyadari bahwa mereka tidak kita pilih untuk melaksanakan aturan tertentu. Mereka kita pilih karena memang tidak ada lagi pilihan bagi kita selain itu. Ibarat kita makan di restoran, menunya adalah : racun tikus, paku mentah, beling mentah, kotoran binatang dsb. Mana yang rekan – rekan pilih? Kalau saya sih tidak percaya dengan politik oportunistis yang dijalankan saat ini. Baik itu partai yang ngakunya partai Islam ataupun partai sekuler nasionalis. Semuanya hanyalah partai – partai yang mencoba mengalap berkah dari kesengsaraan rakyatnya. Maka janganlah terlalu berharap kepada para anggota dewan bahwa mereka akan dengan serius memperjuangkan aspirasi rakyatnya! Sekarang sudah saatnya bagi kita kaum muda untuk menggantikan rezim dan system yang zalim ini dengan diri kita dan Islam sebagai sebuah ideology. Karena Sosialisme komunis telah hancur berserakan. Kapitalisme sekuler telah mulai mengeluarkan bau busuknya tanda dia mulai membusuk. Dan hanya tinggal Islam pilihan yang mungkin saat ini. Karena sampai saat ini hanya Islamlah yang mampu menawarkan solusi – solusi atas pemecahan problematika umat dengan pemecahan yang adil.
Sesungguhnya Kebangkitan Kembali Islam Sebagai Sebuah Agama Dan Ideologi Adalah Suatu Keyakinan Bukan Suatu Harapan!
Diposting oleh
GEMA PEMBEBASAN JAWA TIMUR
di
11:21 PM
0
komentar
Label: OKP
